Minggu, 02 Mei 2010

Lelaki yang Mencintai Buku

Cerpen :

Oleh : Idris Siregar

Aku terduduk di sudut halte itu. Lalu lalang kenderaan silih berganti. Begitu juga orang – orang yang berada di halte itu datang dan pergi bersama kenderaan yang di tumpanginya. Mega – mega berarak arak dalam warna hitam mengelam, sebait tanda akan turun hujan. Cuaca seperti itu bagi sebahagian orang merupakan kendala. Tapi bagi sebahagian lagi adalah yang ditunggu – tunggu. Sedangkan aku dalam posisi menanti dan mencari keputusan merasakan tak ada bedanya, apakah mau hujan atau panas.
Ya, aku sedang menanti sesuatu. Menanti sesuatu untuk aku putuskan, apakah usai dari halte itu, aku akan menuju rumah Nadia, atau menemui Santi atau juga langsung pulang ke rumah.
Aku membuka rangsel. Buku Bayangan Fiksi yang ditulis musisi idolaku Fariz RM aku buka. Gerimis sudah mengundang untuk basahi bumi. Dan hasratku aku undang untuk membaca lagi buku yang sedang aku pegang itu. Buku tersebut aku pinjam dari Nadia. Ingataku sekelebat bermain – main pada dua purnama yang lalu. Pertemuanku dengan Nadia di sebuah pameran buku
“Senang membaca ya?’ kataku tegas saat aku berada di samping seorang wanita berkac mata, rambut bergaya konvensional, lurus ke belalakang, melewati pundaknya.
Ia menatapku. “Iya nih,” jawabnya tenang. “Bagaimana dengan kamu?”
“Saya pecinta buku,”
“Yang benar.”
“Lho nggak percaya.”
“Saya uji ya?”
“Siapa takut?’
“Sudah baca bukunya Merajut bersama karya Lely Zailani?’
“Sudah. Buku itu berisikan kisah – kisah inspirasi yang berangkat dari pangalaman para wanita yang berjuang dalam kehidupannya. Ada yang berada di lokasi konflik tempo hari seperti di Poso. Ada juga yang menceritakan perjuangan perempuan dalam memperoleh hak – haknya terutama dalam pendidikan dan kesetaraan gender.’
“Sekarang saya baru percaya.”
“O, ya nama saya Yudi.”
“Nadia.”
Kami pun saling mengulurkan tangan.
Pembicaraan aku dengan Nadia bagaikan baut dengan mur. Buku menjadi jembatan komunikasi dan saling berdiskusi. Ada saja yang menjadi objek pembicaraan. Tetapi, yang aku kagumi dari dirinya, adalah Nadia kerap memberikanku kesempatan untuk membaca buku - buku baru yang belum aku punyai. Terkadang pukul sepuluh malam ia nelepon, hanya mau bilang bahwa ia baru beli buku baru.
“Halo, Di. Lagi ngapain?’
“Lagi baca buku?”
“Buku apa?”
“Antologi Cerpen Tempat Terbaik Untuk Menculik.”
“Seram banget tuh judul. Masak sih ada tempat terbaik untuk menculik.”
“Ada. Dalam salah satu cerita pendek di antologi ini ada yang berkisah tentang hal itu,” jawabku.
“Boleh pinjam?”
“Bolehlah. Masak sesama pencinta buku saling berseteru.’
“Senang aku mendengar istilah kamu itu. Pecinta buku.”
Aku tersenyum – senyum mendengar kata – kata Nadia.
“O, ya besok aku ke rumahmu.”
“Oke.”
Begitulah hubungan aku dengan Nadia yang masih mahasiswa sama seperti aku, yang duduk di semester lima. Kami ternyata satu Universitas hanya lain fakultas. Aku di fakultas hukum, sedangkan Nadia di fakultas ekonomi. Namun ada kesamaan lain kami bahwa kami tidak membatasi diri hanya membaca buku – buku bertemakan tertentu.
Aku suka membaca buku bertema apa saja, mulai sastra, ekonomi, politik, lifestyle, inspiratif, buku anak – anak, dan lain – lain. Begitu juga dengan Nadia. Hanya saja yang membedakannya adaah Nadia dengan latar belakang papa dan mamanya yang pengusaha itu, sanggup membeli buku – buku baru dengan sekejap. Sedangkan aku hanya sekali - sekali dapat membeli buku baru, mengingat keterbatasan dana dari orang tua. Namun hal itu tidak menyurutkanku untuk menyintai buku dengan membacanya di perpustakaan, atau di took buku megah di kotaku, atau ya sering – sering menganut paham cumi alias Cuma minjam dari sobat – sobat di fakultas, atau di komunitas pencinta buku.
Hanya saja situasi kedekatanku dengan nadia menumbuhkan virus cemburu di ruang hati Santi. Santi teman dekatku di fakultas. Kami sering bareng. Tapi tujuannya kalau nggak ke cafeteria, ke mall, atau ke bioskop. Minum – minum atau sekedar cuci mata. Memang pernah juga ke perpustakaan atau ke toko buku, tapi aku selalu lihat perasaannya selalui ingin segera beranjak dari tempat itu. Perbedaan itu semakin tajam saat aku mulai mengenal Nadia.
“Kamu di mana, Di.”
“Lagi di rumah Nadia.”
“Oohh begitu ya…”
“Jangan salah paham dulu. Aku diundangnya melihat - lihat koleksi bukunya.”
“Sendirian?’
“Ya berdualah dengan si empu buku. Ada”
Handphone diputus Santi. Aku terperanjat. Murka benar tuh doi. Tapi ya semua sudah terjadi. Ntar aja diklarifikasi kalau urusan dengan Nadia sudah selesai.
Gelegar petir yang menyambar memutuskan lamunan itu. Hujan masih saja menjuntai – juntaikan airnya dalam irama angin, hingga menaburkan diri di jalan – jalan, atau di gedung – gedung. Spontan aku bangkit, dan reflek tubuh ini mencoba menghindar dari serangan petir. Hanya saja buku yang aku baca tadi tadi terlepas dari genggaman. . Byur ….jatuh ke tanah yang tinggi airnya aku tebak lima centimeter . Dan itu cukup membuat buku Bayangan Fiksinya Fariz RM yang aku pinjam dari Nadia meredam basah.
Astaga! Batinku berucap. Berapa ini duit untuk menggantinya. Kekagetaanku lengkaplah ketika suara klakson berbunyi deras tepat di sampingku. Jendela Honda Jazz biru metalik itu terbuka. Nadia.
Aku masuk ke dalam mobil Nadia.
“Terkepung hujan ya?”
“Sengaja aja.”
“Nggak percaya?”
“Benar.”
“Perlu diuji nih.”
“Siapa takut?’
“Kenapa hujan turun ke bawah?”
“Ya kalau hujan naik ke atas itu namanya hujan lift.”
“Ngaco ah!”
“O, ya ada yang ingin aku katakan, Nad.”
“Tentang apa?”
“Buku yang aku pinjam kemarin rusak terendam air.”
“Yang berani minjam berani tanggung jawab gantinya kalau rusak atau hilang.”
“Nah, masalahnya gantinya jangan dalam tempo yang sesingkat – singkatnya.”
“Bercanda aja, Di. Udah nggak usah diganti.”
Aku memandang Nadia. “Yang benar nih.”
Nadia mengaggukkan kepala. “ O,ya ada khabar bagus buat kamu.”
“Khabar apa bagus?”
“Ntar deh.”
Aku penasaran. Meski di rayu – rayu agar Nadia mau membilangnya, gadis itu tetap bungkam. “Pokok lihat saja nanti.”
Akhirnya kami pun tiba di sebuah rumah. Rumah itu tidak terlalu besar. Aku taksir 8 x 15 meter. Bercat putih bersih. Dengan gaya minimalis menandakan rumah itu dalam lingkungan real estate.
“Ke mana kita?”
“Ayo keluar.”
Aku menuruti kata – kata Nadia. Pintu rumah terbuka. Dan aku saksikan ada Santi dan lima orang wanita serta lima orang lelaki lainnya berada di situ.
“Ini Taman Baca. Hadiah buat kita semua yang menyintai buku. Khususnya lagi buat lelaki yang menyintai buku,” ucap Santi bersemangat.
Aku terharu. Diam – diam aku mendekati Santi. ‘ Ngomong ngomong kok kamu bisa berubah begini? O, yak ok bisa akrab banget dengat Nadia.
“Ada aja. Ntar aku ceritain.”
Dan aku hanya bisa tersenyum bahagia. Kami menikmati suasana Taman Bacaan itu bertubi – tubi #




,






Tidak ada komentar:

Posting Komentar