Menjadi Sosok Perempuan Yang Hebat dan Tangguh
Oleh : Idris Siregar, SH
Apa yang kita ingat mengenai Raden Ajeng Kartini? Ya, mengingatkan kita kepada perjuanan perempuan Indonesia, dari zamannya masing masing. Meskipun tidak ada batasan secara garis nyata tentang pemilahan itu. Tapi proses perkembangan kehidupan menandainya pada satu kata kunci yang paling diingat masyarakat berkaitan dengan RA Kartini, yaitu emansipasi.
Munculnya gerakan emansipasi tersebut berawal dari adanya ketimpangan yang terjadi. Lalu emansipasi diperjuangkan mengatasnamakan ketidakadilan dan perlakuan semena-mena terhadap perempuan. Perempuan yang pada masa itu berada dalam ’kekuasaan’ laki laki, yang dibalur oleh adat istiadat, dan nilai nilai yang tumbuh di tengah masyarakat, sehingga mereka tidak dapat dengan leluasa untuk mengekspresikan hasrat dan cita cita.
Bila dari perjalanan sejarah bangsa Indonesia menyeruak Radan Ajeng Kartini sebagai sosok perempuan hebat dan tangguh, dalam memperjuangkan nilai nilai kebersamaaan dalam memperoleh hasrat dan cita cita, maka jadilah beliau semacam icon bagi generasi penerus terutama para kaum perempuan Indonesia pasca keberadaan RA Kartini sampai dalam situasi kondisi sekarang ini
Namun dalam konteks sekarang pun tetap saja terdapat dua isu faktual yang menjadi beban moral bagi perempuan Indonesia, yaitu pendidikan dan kesehatan. Pendidikan menjadi sumber inspirasi dalam mengembangkan kreatifitas dan inovasi diri di tengah tengah masyarakat walaupun pada posisi apapun perempuan Indonesia itu berkarya atau berkerja. Dan kesehatan menjadi modal utama dalam melakukan proses pendidikan terutama dalam persfektif pendidikan informal.
Maka sosok perempuan hebat dan tangguh bukanlah secara kasat mata semata, yang diperdengarkan atau dipertunjukkan perempuan Indonesia yang sukses dalam memwujudkan impian impiannya sehingga menjadi selebritis, wakil rakyat, pengusaha, wirausahawan, akademisi, pejabat public, olahragawati, presenter, musisi, penegak hukum, pengacara, atau dari generasi muda yang berhasil dalam menempuh pendidikannya dengan prestasi tinggi, seperti Ni Made Yuli Lestari dari SMPN 1 Kabupaten Gianyar dan Ni Kadek Indra Puspayanti dari SMPN 1 Abiansemal, Kabupaten Badung, berhasil meraih nilai ujian nasional (UN) SMP/MTs tertinggi tingkat nasional tahun pelajaran 2009/2010. Begitu juga Nyoman Ledy Trisna Paramartha dari SMPN 1 Denpasar, Kadek Ria Citra Dewi dari SMPN 1 Denpasar dan Made Ayu Mutiara Dewi dari SMPN 1 Kuta Utara, yang meraih rangking kedua tingkat nasional dengan nilai sama yaitu 39,60, serta I Gst Agung Indah Pradnyani RS dari SMPN 1 Denpasar dengan nilai 39,55 peraih ranking ketiga tingkat nasional.
Tapi, di sisi lain masih banyak perempuan Indonesia yang berjuang dalam kondisi serba keterbatasan, untuk keluar dari keterbatasannya akibat belitan sosial ekonomi, sosial culural dengan melakukan perlawanan melalui cara mereka, sehingga meredam sejenak keinginan sekolah yang laik, lalu merantau ke negeri seberang untuk berkerja dan berkarya. Mereka pun layak menjadi sosok perempuan Indonesia yang hebat dan tangguh karena kuat dan tabah menghadapi ujian kehidupannya.
Bukankah RA Kartini berdasarkan fakta sejarah membangun keinginan untuk melanjutkan studi, terutama ke Eropa. Hal itu terungkap dalam surat-suratnya. Para sahabat penanya mendukung dan berupaya mewujudkan keinginan Kartini tersebut. Namun akhirnya Kartini membatalkan keinginan yang hampir terwujud tersebut, karena Kartini memutuskan untuk sekolah di Betawi, setelah dinasihati oleh Nyonya Abendanon bahwa itulah yang terbaik bagi Kartini dan adiknya Rukmini.
Namun pertengahan tahun 1903 ketika Kartini dalam usia 24 tahun, niat untuk melanjutkan studi menjadi guru di Betawi pun sirna. Padahal saat itu pihak departemen pengajaran Belanda sudah membuka pintu kesempatan bagi Kartini dan Rukmini untuk belajar di Betawi.
Dalam sebuah surat kepada Nyonya Abendanon, Kartini mmengungkap tidak berniat lagi karena akan menikah. "...Singkat dan pendek saja, bahwa saya tiada hendak mempergunakan kesempatan itu lagi, karena saya sudah akan kawin..." Dan pasca pernikahannya tersebut, Kartini dengan dukungan suaminya mendirikan sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang,
Memang, pada galibnya emansipasi bukan semata – mata kebebasan untuk berekpresi yang menjadi daya pamer bahwa aku pun bisa seperti apa yang dilakukan laki – laki. Tapi, ia lebih menikuk ke dalam nurani bahwa kodrati diri sebagai perempuan membutuhkan suasana yang nyaman seimbang antara hak dan kewajiban, berkompetisi dengan sehat dan manusiawi, menjadi sosok yang hebat dan tangguh, dan memberi inspirasi yang bertubi tubi.#
Deli Serdang, 2010

Tidak ada komentar:
Posting Komentar