Selasa, 11 Mei 2010

“INSPIRING WOMAN”



Menjadi Sosok Perempuan Yang Hebat dan Tangguh
Oleh : Idris Siregar, SH


Apa yang kita ingat mengenai Raden Ajeng Kartini? Ya, mengingatkan kita kepada perjuanan perempuan Indonesia, dari zamannya masing masing. Meskipun tidak ada batasan secara garis nyata tentang pemilahan itu. Tapi proses perkembangan kehidupan menandainya pada satu kata kunci yang paling diingat masyarakat berkaitan dengan RA Kartini, yaitu emansipasi.

Munculnya gerakan emansipasi tersebut berawal dari adanya ketimpangan yang terjadi. Lalu emansipasi diperjuangkan mengatasnamakan ketidakadilan dan perlakuan semena-mena terhadap perempuan. Perempuan yang pada masa itu berada dalam ’kekuasaan’ laki laki, yang dibalur oleh adat istiadat, dan nilai nilai yang tumbuh di tengah masyarakat, sehingga mereka tidak dapat dengan leluasa untuk mengekspresikan hasrat dan cita cita.

Bila dari perjalanan sejarah bangsa Indonesia menyeruak Radan Ajeng Kartini sebagai sosok perempuan hebat dan tangguh, dalam memperjuangkan nilai nilai kebersamaaan dalam memperoleh hasrat dan cita cita, maka jadilah beliau semacam icon bagi generasi penerus terutama para kaum perempuan Indonesia pasca keberadaan RA Kartini sampai dalam situasi kondisi sekarang ini

Namun dalam konteks sekarang pun tetap saja terdapat dua isu faktual yang menjadi beban moral bagi perempuan Indonesia, yaitu pendidikan dan kesehatan. Pendidikan menjadi sumber inspirasi dalam mengembangkan kreatifitas dan inovasi diri di tengah tengah masyarakat walaupun pada posisi apapun perempuan Indonesia itu berkarya atau berkerja. Dan kesehatan menjadi modal utama dalam melakukan proses pendidikan terutama dalam persfektif pendidikan informal.

Maka sosok perempuan hebat dan tangguh bukanlah secara kasat mata semata, yang diperdengarkan atau dipertunjukkan perempuan Indonesia yang sukses dalam memwujudkan impian impiannya sehingga menjadi selebritis, wakil rakyat, pengusaha, wirausahawan, akademisi, pejabat public, olahragawati, presenter, musisi, penegak hukum, pengacara, atau dari generasi muda yang berhasil dalam menempuh pendidikannya dengan prestasi tinggi, seperti Ni Made Yuli Lestari dari SMPN 1 Kabupaten Gianyar dan Ni Kadek Indra Puspayanti dari SMPN 1 Abiansemal, Kabupaten Badung, berhasil meraih nilai ujian nasional (UN) SMP/MTs tertinggi tingkat nasional tahun pelajaran 2009/2010. Begitu juga Nyoman Ledy Trisna Paramartha dari SMPN 1 Denpasar, Kadek Ria Citra Dewi dari SMPN 1 Denpasar dan Made Ayu Mutiara Dewi dari SMPN 1 Kuta Utara, yang meraih rangking kedua tingkat nasional dengan nilai sama yaitu 39,60, serta I Gst Agung Indah Pradnyani RS dari SMPN 1 Denpasar dengan nilai 39,55 peraih ranking ketiga tingkat nasional.

Tapi, di sisi lain masih banyak perempuan Indonesia yang berjuang dalam kondisi serba keterbatasan, untuk keluar dari keterbatasannya akibat belitan sosial ekonomi, sosial culural dengan melakukan perlawanan melalui cara mereka, sehingga meredam sejenak keinginan sekolah yang laik, lalu merantau ke negeri seberang untuk berkerja dan berkarya. Mereka pun layak menjadi sosok perempuan Indonesia yang hebat dan tangguh karena kuat dan tabah menghadapi ujian kehidupannya.

Bukankah RA Kartini berdasarkan fakta sejarah membangun keinginan untuk melanjutkan studi, terutama ke Eropa. Hal itu terungkap dalam surat-suratnya. Para sahabat penanya mendukung dan berupaya mewujudkan keinginan Kartini tersebut. Namun akhirnya Kartini membatalkan keinginan yang hampir terwujud tersebut, karena Kartini memutuskan untuk sekolah di Betawi, setelah dinasihati oleh Nyonya Abendanon bahwa itulah yang terbaik bagi Kartini dan adiknya Rukmini.

Namun pertengahan tahun 1903 ketika Kartini dalam usia 24 tahun, niat untuk melanjutkan studi menjadi guru di Betawi pun sirna. Padahal saat itu pihak departemen pengajaran Belanda sudah membuka pintu kesempatan bagi Kartini dan Rukmini untuk belajar di Betawi.

Dalam sebuah surat kepada Nyonya Abendanon, Kartini mmengungkap tidak berniat lagi karena akan menikah. "...Singkat dan pendek saja, bahwa saya tiada hendak mempergunakan kesempatan itu lagi, karena saya sudah akan kawin..." Dan pasca pernikahannya tersebut, Kartini dengan dukungan suaminya mendirikan sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang,


Memang, pada galibnya emansipasi bukan semata – mata kebebasan untuk berekpresi yang menjadi daya pamer bahwa aku pun bisa seperti apa yang dilakukan laki – laki. Tapi, ia lebih menikuk ke dalam nurani bahwa kodrati diri sebagai perempuan membutuhkan suasana yang nyaman seimbang antara hak dan kewajiban, berkompetisi dengan sehat dan manusiawi, menjadi sosok yang hebat dan tangguh, dan memberi inspirasi yang bertubi tubi.#

Deli Serdang, 2010

Jumat, 07 Mei 2010

Puisi : Idris Siregar

Air Yang Jatuh

air yang jatuh telah menjauh
dari aku ketika hadir
mengenang masa-masa hujan
datang sepanjang jalan itu
dan kau lebih memilih berdiam
di ruang tamu menunggunya
pulang membawa dosa

air yang jatuh telah menjauh, menjauh
dari aku meski mengalir
perlahan-lahan terikut arus kenangan
berhenti dijaln itu
dan kau lebih mencari bayang-bayangnya
di ruang tamu dalam kegamangan


Pernyataan Panjang

dengan kekuasan mereka beri
air mata ini kepada sesiapa penentang
yang membawa-bawa kenangan suci
menjadi tameng untuk berbukti
bahwa sejarah telah dikebiri
dengan kekerasan mreka bangun
jarak kepada sesiapa pendukung
kisah yang jelas-jelas membagi
nurani menjadi benteng untuk berdalih
bahwa peradapan sengaja dipasung

dengan tepuk tangan
mereka usaikan pertunjukan
yang tak mengundang
perasaan!


Yang Belum Terjabarkan

kebenaran yang mana ada dimana
jika setiap orang kehilangan arah
kebaikan yang mana ada dimana
jika setiap orang kekurangan apa-apa
kebersamaan yang mana ada dimana
jika setip orang ketakutan rasa

kesiapan yang ada, dimana-mana
keserakahan yang ada dimana-mana
keburukan yang ada, dimana-mana
tak terjabarkan kisah ada, dimana-mana


Tak

aku tak mau
kalau aku ditipu
tetapi siapa yang tahu
untuk melakukan itu
karena aku hanya satu
sedang kau seribu satu

aku tak mau
kalau aku dirayu
tetapi siapa yang malu
untuk melaksanakan itu
karena aku hanya rapuh
sedang kau membeku

aku tak mau
kalau aku diselingkuh
tetapi siapa yang ragu
karena aku hanya bisu
sedang kau gemuruh


Doa Seorang Pejabat

saya seorang pejabat ya Tuhan
yang pernah susahkan hati rakyat
yang sempat menilep uang rakyat
yang menjilat atasan memijak bawahan
yang menjauhimu walau sekejap
maka biarkan waktu memihakku
hingga segala sesuatu bisa diatur
selanjutnya ya Tuhan


Begitu Banyak yang Ingin

mencoba melepaskan baju itu
tak ingin waktu segera berlalu
dengan kehampaan lembaran buku
kehidupan putih membeku
begitu banyak ingin yang diperebutkan
ketika gulita menjadi karip persekutuan
setiap detik adalah undangan sahwat
berpesat lalu catatkan kenangan
ke setiap sudut pandangan
terjejak tapi sukat terlacak
tuan-tuan dan puan-puan


Di Kamar Kerja

pena yang lengah semenjak
semangat koyak moyak
dicabik-cabik kuku kekuatan sahwat
mereka yang kerap
mentahbiskan segenap pemlik
untuk menyusuri jejak
yang nikmat sekejab
meja yang membisu ketika
tak lagi tersentuh suara-suara
ketaklukkan dn amplop yang bergiliran
tiba di laci sembari
mereka membuka berseri
kutahu itu tetap acara berbasa basi
mereka ucapkan terima kasih!
dikamar kerja
aku ciptakan suasana
tetapi waktu cua
dalam penilaiannya!


Tuan Masih Berperan

melalui berita koran – koran aku masih
menyaksikan tuan berpera menjadi
dermawan meski dari hasil curang terang
terangan yang menyapa kesana kemari
meski dari mulut berbisa panjang
yang menjunjung tinggi perkawanan
meski terkadang menggunting dalam lipatan
tetapi begitulah aku masih berharap
tuan datang keruang kenangan ini
berbagi misteri tentang kapan tuan
memperkealkan diri kepada Tuhan..........


Persaingan

yang naik yang turun
yang jujur yang terbujur
yang baik yang aib
yang dekat yang berjarak
yang loyal yang royal
yang sepaham yang dendam
yang berdedikasi yang terkontaminasi
yang menang bisa saja salah satunya


Nasehat Seorang Pejabat Kepada Putrinya

putriku
jika suatu hari nanti
kamu menjadi pejabat tinggi
jangan tiru kelakun papi
yang lebih memilih komisi sebagai tradisi
daripada putihnya nuani ’tuk menyapa
suara penentang kekacauan ini

kamu tahu , kekuasaan membuat kita terbuai
bagaikan memulai kenikmatan ta bernilai
padahal itulah satu ujian laksana badai
yang jika diri tak siap , kan menjadi bumerang
menikam langkah bertubi-tubi

putriku, jika harinya tiba
carilah suami sang pejbat istana
jangan tiru gaya papa
yang lebih memilih foya-foya


tetapi, putriku …
jika suasana tak menentukan tiba
ya,sudah lakukan saja cerita lama
dengan kekelaman yang nyata
kamu bisa berkisah sepanjang malam
bawa negeri ini semacam warna
menggulita dalam jam yang berjalan !

Selasa, 04 Mei 2010

Puisi : Idris Siregar

Kunjungan
Datang dan kunjungi beramai ramai
rumahNya yang kini telah diperbaharui
walau berlalu lalang pertandanya
di jalan jalan sarat godaan
arus jam terkadang membuat batin
menjadi puas tak berbekas
berlalu begitu saja saat azan menyeru
pantaslah teringat alamatMu
hanya saat butuh sekilas pengisian waktu
Oh....


Mendekatkan Diri

Mendekatkan diri kepadaMu
Begitu berbesar harap ada di situ
Sembari menaruh doa doa
di atas sajadah yang kau kirim
dalam malam tak bermusim


Kisah seorang Pemulung
Saban hari ia susui jalan kota ini
mencari cari benda tuk bertahan hidup
perasaan sudah luka tertikam sengsara
mata sudah perih tersaput sedih
jemari lelah menggenggam mimpi mimpi
hingga di satu persimpangan jalan
ia temui doa doa yang terbuang!

Yang Kotor Kotor
Yang kotor kotor mari dibersihkan
Lewat tangan besi ketik kau punya kursi
Melalui wibawa ketika kau miliki nurani
Melalui doa ketika kau hanya bisa berdiri

Tetapi, yang kotor kotor semakin menjadi
Jika kau ada kursi tak ingin berganti
Ketika kau ada materi tak ingin berbagi
Ketika kau hanya bisa berdiri
tak mencoba tuk berlari

Masih Adakah
Masih adakah hati yang beruntung
Ketika berbicara begitu santun
Ketika bersikap tetap menuntun
Ketika memiliki tak lupa berbagi
Ketika menerima tak gadaikan harga diri
Masih adakah....

Buah Hati
Buah hati tumbuh dari cinta kasih
Dimulai dan diakhir atas nama jani suci
Lahir dinanti meski harap harap menanti
Sebab hadirya antara hidup dan mati
Dan cahaya wajahnya menjadi obat diri
melenyapkan sakit bertubi tubi

Minggu, 02 Mei 2010

Lelaki yang Mencintai Buku

Cerpen :

Oleh : Idris Siregar

Aku terduduk di sudut halte itu. Lalu lalang kenderaan silih berganti. Begitu juga orang – orang yang berada di halte itu datang dan pergi bersama kenderaan yang di tumpanginya. Mega – mega berarak arak dalam warna hitam mengelam, sebait tanda akan turun hujan. Cuaca seperti itu bagi sebahagian orang merupakan kendala. Tapi bagi sebahagian lagi adalah yang ditunggu – tunggu. Sedangkan aku dalam posisi menanti dan mencari keputusan merasakan tak ada bedanya, apakah mau hujan atau panas.
Ya, aku sedang menanti sesuatu. Menanti sesuatu untuk aku putuskan, apakah usai dari halte itu, aku akan menuju rumah Nadia, atau menemui Santi atau juga langsung pulang ke rumah.
Aku membuka rangsel. Buku Bayangan Fiksi yang ditulis musisi idolaku Fariz RM aku buka. Gerimis sudah mengundang untuk basahi bumi. Dan hasratku aku undang untuk membaca lagi buku yang sedang aku pegang itu. Buku tersebut aku pinjam dari Nadia. Ingataku sekelebat bermain – main pada dua purnama yang lalu. Pertemuanku dengan Nadia di sebuah pameran buku
“Senang membaca ya?’ kataku tegas saat aku berada di samping seorang wanita berkac mata, rambut bergaya konvensional, lurus ke belalakang, melewati pundaknya.
Ia menatapku. “Iya nih,” jawabnya tenang. “Bagaimana dengan kamu?”
“Saya pecinta buku,”
“Yang benar.”
“Lho nggak percaya.”
“Saya uji ya?”
“Siapa takut?’
“Sudah baca bukunya Merajut bersama karya Lely Zailani?’
“Sudah. Buku itu berisikan kisah – kisah inspirasi yang berangkat dari pangalaman para wanita yang berjuang dalam kehidupannya. Ada yang berada di lokasi konflik tempo hari seperti di Poso. Ada juga yang menceritakan perjuangan perempuan dalam memperoleh hak – haknya terutama dalam pendidikan dan kesetaraan gender.’
“Sekarang saya baru percaya.”
“O, ya nama saya Yudi.”
“Nadia.”
Kami pun saling mengulurkan tangan.
Pembicaraan aku dengan Nadia bagaikan baut dengan mur. Buku menjadi jembatan komunikasi dan saling berdiskusi. Ada saja yang menjadi objek pembicaraan. Tetapi, yang aku kagumi dari dirinya, adalah Nadia kerap memberikanku kesempatan untuk membaca buku - buku baru yang belum aku punyai. Terkadang pukul sepuluh malam ia nelepon, hanya mau bilang bahwa ia baru beli buku baru.
“Halo, Di. Lagi ngapain?’
“Lagi baca buku?”
“Buku apa?”
“Antologi Cerpen Tempat Terbaik Untuk Menculik.”
“Seram banget tuh judul. Masak sih ada tempat terbaik untuk menculik.”
“Ada. Dalam salah satu cerita pendek di antologi ini ada yang berkisah tentang hal itu,” jawabku.
“Boleh pinjam?”
“Bolehlah. Masak sesama pencinta buku saling berseteru.’
“Senang aku mendengar istilah kamu itu. Pecinta buku.”
Aku tersenyum – senyum mendengar kata – kata Nadia.
“O, ya besok aku ke rumahmu.”
“Oke.”
Begitulah hubungan aku dengan Nadia yang masih mahasiswa sama seperti aku, yang duduk di semester lima. Kami ternyata satu Universitas hanya lain fakultas. Aku di fakultas hukum, sedangkan Nadia di fakultas ekonomi. Namun ada kesamaan lain kami bahwa kami tidak membatasi diri hanya membaca buku – buku bertemakan tertentu.
Aku suka membaca buku bertema apa saja, mulai sastra, ekonomi, politik, lifestyle, inspiratif, buku anak – anak, dan lain – lain. Begitu juga dengan Nadia. Hanya saja yang membedakannya adaah Nadia dengan latar belakang papa dan mamanya yang pengusaha itu, sanggup membeli buku – buku baru dengan sekejap. Sedangkan aku hanya sekali - sekali dapat membeli buku baru, mengingat keterbatasan dana dari orang tua. Namun hal itu tidak menyurutkanku untuk menyintai buku dengan membacanya di perpustakaan, atau di took buku megah di kotaku, atau ya sering – sering menganut paham cumi alias Cuma minjam dari sobat – sobat di fakultas, atau di komunitas pencinta buku.
Hanya saja situasi kedekatanku dengan nadia menumbuhkan virus cemburu di ruang hati Santi. Santi teman dekatku di fakultas. Kami sering bareng. Tapi tujuannya kalau nggak ke cafeteria, ke mall, atau ke bioskop. Minum – minum atau sekedar cuci mata. Memang pernah juga ke perpustakaan atau ke toko buku, tapi aku selalu lihat perasaannya selalui ingin segera beranjak dari tempat itu. Perbedaan itu semakin tajam saat aku mulai mengenal Nadia.
“Kamu di mana, Di.”
“Lagi di rumah Nadia.”
“Oohh begitu ya…”
“Jangan salah paham dulu. Aku diundangnya melihat - lihat koleksi bukunya.”
“Sendirian?’
“Ya berdualah dengan si empu buku. Ada”
Handphone diputus Santi. Aku terperanjat. Murka benar tuh doi. Tapi ya semua sudah terjadi. Ntar aja diklarifikasi kalau urusan dengan Nadia sudah selesai.
Gelegar petir yang menyambar memutuskan lamunan itu. Hujan masih saja menjuntai – juntaikan airnya dalam irama angin, hingga menaburkan diri di jalan – jalan, atau di gedung – gedung. Spontan aku bangkit, dan reflek tubuh ini mencoba menghindar dari serangan petir. Hanya saja buku yang aku baca tadi tadi terlepas dari genggaman. . Byur ….jatuh ke tanah yang tinggi airnya aku tebak lima centimeter . Dan itu cukup membuat buku Bayangan Fiksinya Fariz RM yang aku pinjam dari Nadia meredam basah.
Astaga! Batinku berucap. Berapa ini duit untuk menggantinya. Kekagetaanku lengkaplah ketika suara klakson berbunyi deras tepat di sampingku. Jendela Honda Jazz biru metalik itu terbuka. Nadia.
Aku masuk ke dalam mobil Nadia.
“Terkepung hujan ya?”
“Sengaja aja.”
“Nggak percaya?”
“Benar.”
“Perlu diuji nih.”
“Siapa takut?’
“Kenapa hujan turun ke bawah?”
“Ya kalau hujan naik ke atas itu namanya hujan lift.”
“Ngaco ah!”
“O, ya ada yang ingin aku katakan, Nad.”
“Tentang apa?”
“Buku yang aku pinjam kemarin rusak terendam air.”
“Yang berani minjam berani tanggung jawab gantinya kalau rusak atau hilang.”
“Nah, masalahnya gantinya jangan dalam tempo yang sesingkat – singkatnya.”
“Bercanda aja, Di. Udah nggak usah diganti.”
Aku memandang Nadia. “Yang benar nih.”
Nadia mengaggukkan kepala. “ O,ya ada khabar bagus buat kamu.”
“Khabar apa bagus?”
“Ntar deh.”
Aku penasaran. Meski di rayu – rayu agar Nadia mau membilangnya, gadis itu tetap bungkam. “Pokok lihat saja nanti.”
Akhirnya kami pun tiba di sebuah rumah. Rumah itu tidak terlalu besar. Aku taksir 8 x 15 meter. Bercat putih bersih. Dengan gaya minimalis menandakan rumah itu dalam lingkungan real estate.
“Ke mana kita?”
“Ayo keluar.”
Aku menuruti kata – kata Nadia. Pintu rumah terbuka. Dan aku saksikan ada Santi dan lima orang wanita serta lima orang lelaki lainnya berada di situ.
“Ini Taman Baca. Hadiah buat kita semua yang menyintai buku. Khususnya lagi buat lelaki yang menyintai buku,” ucap Santi bersemangat.
Aku terharu. Diam – diam aku mendekati Santi. ‘ Ngomong ngomong kok kamu bisa berubah begini? O, yak ok bisa akrab banget dengat Nadia.
“Ada aja. Ntar aku ceritain.”
Dan aku hanya bisa tersenyum bahagia. Kami menikmati suasana Taman Bacaan itu bertubi – tubi #




,






MEWUJUDKAN MASYARAKAR SADAR ARSIP

Oleh : Idris Siregar

Undang Undang Dasar 1945 pada Pasal 28F menyebutkan : ”Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya, serta berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia.

Informasi yang diperoleh dapat menggunakan jenis saluran yang tersedia seperti penelusuran informasi dari arsip. Pemanfaatan informasi melalui saluran ini masih belum optimal dilakukan oleh elemen masyarakat seperti kalangan pelajar, akademisi, maupun masyarakat umum. Indikator salah satunya adalah ketika mengunjungi kantor perpusatakaan dan arsip daerah, yang dicari pengunjung adalah buku – buku. Di samping itu ada stigma yang kurang tepat di kalangan di masyarakat jika aparat yang berkerja di kantor arsip merupakan pekerjaan yang kurang bergengsi karena hanya berkutat dengan dokumen dokeman semata.

Permasalahan mendasar ini tentunya memerlukan solusi yang bermakna dengan melakukan upaya upaya kongkrit dalam mengembangkan kesadaran masyarakat tentang pentingya arsip serta memberdayakan lembaga kearsipan terutama personil / aparat yang mendidikasikannya tugas tugasnya di lingkup kearsipan.

Beranjak dari persoalan yang memerlukan pembahasanya itu, penulis mengawalinya dengan mengedepankan pengertian Kata arsip. Kata "arsip" merupakan kata serapan dari bahasa Belanda archief yang pada gilirannya diserap dari bahasa Perancis archives dan diucapkan sebagai /ʔɑr'ʃiv/. Pengucapan dan cara penulisan dalam bahasa Indonesia ini nampaknya berasal dari pelafalan bahasa Perancis ini. Pada awalnya kata ini berasal dari bahasa Yunani αρχεία arkheia, bentuk jamak dari αρχείον arkheion, "balai kota".

Ada banyak pengertian yang dikemukakan pakar mengenai arsip. Salah satunya menurut Drs. The Liang Gie dalam bukunya Administrasi Perkantoran Modern, mengemukakan bahwa arsip adalah suatu kumpulan dokumen yang disimpan secara sistematis karena mempunyai suatu kegunaan agar setiap kali diperlukan dapat secara cepat ditemukan kembali.

Menurut Pasal 1 Undang-undang Nomor 7 Tahun 1971 tentang Ketentuan- Ketentuan Pokok Kearsipan menyebutkan pengertian arsip yaitu :

a. Naskah-naskah yang dibuat dan diterima oleh lembaga-lembaga negara negara dan badan-badan pemerintahan dalam bentuk corak apapun, baik dalam keadaan tunggal maupun berkelompok, dalam rangka pelaksanaan kegiatan pemerintahan

b. Naskah-naskah yang dibuat dan diterima oleh badan-badan swasta dan/atau perorangan, dalam bentuk corak apapun, baik keadaan tunggal ataupun berkelompok, dalam rangka pelaksanaan kehidupan kebangsaan.

Sedangkan dalam penjelasan undang Undang Nomor 7 Tahun 1971 tentang Ketentuan Ketentuan Pokok Kearsipan, yang mana penjelasan untuk pasal 1 menyebutkan : ”Yang dimaksud dengan naskah-naskah dalam bentuk corak bagaimanapun juga dari sesuatu arsip dalam pasal ini adalah meliputi baik yang tertulis maupun yang dapat dilihat dan didengar seperti halnya hasil-hasil rekaman, film dan lain sebagainya. Yang dimaksud dengan berkelompok ialah naskah-naskah yang berisikan hal-hal yang berhubungan dengan yang lain yang dihimpun dalam satu berkas tersendiri mengenai masalah yang sama.”

Berdasarkan teori yang ada, ternyata disiplin ilmu kearsipan menyebutkan bahwa arsip dapat dibedakan kedalam beberapa golongan. Kategori penggolongan tersebut melalui :


1. Penggolongan dari dari sudut pandang meninjaunya terdiri dari :
a. Penggolongan arsip menurut subyek/ masalah atau isinya
b. Penggolongan arsip menurut bentuk dan wujudnya
c. Penggolongan arsip menurut nilai atau kegunaannya
d. Penggolongan arsip menurut sifat kegunaannya
e. Penggolongan arsip menurut frekuensi penggunaannya
f. Penggolongan arsip menurut fungsinya
g. Penggolongan arsip menurut tempat penyimpanan dan pemeliharaanya
h. Penggolongan arsip menurut keasliannya

2. Penggolongan Arsip Menurut Subyek/Masalah atau Isinya terdiri dari :
a. Umum
b. Pemerintahan
c. Politik
d. Keamanan dan ketertiban
e. Kesejahteraan
f. Perekonomian
g. Pekerjaan umum dan ketenangan
h. Pengawasan
i. Kepegawaian
j. Keuangan

3. Penggolongan Arsip Menurut Bentuk dan Wujudnya terdiri dari :
a Arsip Tekstual (Textual Record)
b Arsip pandangan dengar
c. Arsip kartografi dan kearsitekturan
d. Arsip kemputer atau disebut arsip elektronik

4. Penggolongan Arsip Menurut Nilai Gunanya terdiri dari :
i. Nilai guna administrasi
j. Nilai guna hukum
k. Nilai guna keuangan
l. Nilai guna untuk kebijaksanaan
m. Nilai guna untuk pelaksanaan kegiatan
n. Nilai guna sejarah
o. Nilai guna untuk penelitian

5. Penggolongan Arsip Menurut Sifat Kepentingannya terdiri dari :
a. Arsip esensial, yaitu arsip yang tidak memerlukan pengolahan dan tidak memiliki nilai kepentingan apapun
b Arsip yang diperlukan, yaitu arsip yang masih mempunyai nilai kegunaan, tetapi sifatnya sementara
c Arsip penting yaitu yang mempunyai nilai hukum, pendidikan, keuangan, sejarah
d.Arsip vital yaitu arsip yang bersifat permanen

6. Penggolongan Arsip Menurut Frekuensi Penggunaanya terdiri dari :
a. Arsip aktif
b. Arsip pasif
c. Arsip abadi

7. Penggolongan Arsip Menurut Fungsinya terdiri dari :
a. Arsip dinamis yang meliputi :
- Arsip aktif
- Arsip semi aktif
- Arsip in aktif

a. Arsip statis


Dari uraian penggolongan arsip tersebut dapat diambil pernyataan bahwa arsip memiliki ruang infomasi yang sangat luas untuk dapat dipergunakan dan di manfaatkan oleh masyarakat, dalam melakukan berbagai kegiatannya dijalur pendidikan, tugas tugas kantor, penelitian, penambahan wawasan dan pegetahuan, menjadi referensi dalam menulis dan mengarang, bahkan untuk pengambilan kebijakan dan keputusan.

Oleh karena itu sudah saatnya dilakukan langkah- langkah kongkrit yang dapat memberikan konstribusi dalam mewujdukan masyarakat sadar arsip antara lain melalui :
1. Pelaksanaan Penyuluhan kearsipan yang sistematis dan inovatif bagi kalangan masyarakat. Sistematis mengacu kepada kaidah kaidah yang berlaku dan inovatif mengandung makna kegiatan itu haruslah tidak monoton, misalnya memadukan kegiatan penyuluhan dengan kuis – kuis, dan hiburan.

2. Pelaksanaan iklan layanan masyarakat di media cetak dan elektornik. yang mengikutsertakan partisipasi masyarakat dalam membuat designnya

3. Pelaksanaan kegiatan – kegiatan lainnya yang mengikut sertakan elemen masyarakat, seperti lomba menulis artikel, lomba menulis puisi, lomba menulis cerpen, lomba menulis novel bertema sejarah sehingga membutuhkan arsip sebagai bahan referensi, lomba video, lomba foto.

4. Pelaksanaan penguatan organisasi kearsipan di kabuapten/kota sampai tingkat nasional, khususnya bagi kalangan aparat di daerah untuk lebih diperhatikan sumber daya manusianya melalui kursus, workshop dan diklat serta yang terpenting lagi pemberian insentif tambahan kepada mereka yang bertugas di bidang kearsipan. Tentunya sarana dan prasarana pendukungan yang tidak sekedar memadai tapi harus lebih sudah wajar diberikan kepada lembaga kearsipan, sehingga stigma masyarakat terhadap mereka yang berkerja di bidang kearsipan tidak terpandang sebelah mata. Dari segi eselonisasi juga sudah wajar untuk dilakukan evaluasi, mengingat di banyak kabupaten dan kota arsip dan perpustakaan digabungkan dengan eselon pimpinan SKPD nya hanya Eselon III/a. Di samping itu di unit unit kerja lainnya juga sewajarnya petugas yang melakukan pengarsipan memperoleh insentif , sebagaimana bendaharawan pada setiap unit kerja memperoleh insentif bendaharawan.

Langkah – Langkah tersebut di atas memang pada akhirnya bermuara kepada pengalokasian dana baik dari APBD dan APBN. Namun hal itu sebaikanya tidak menjadi alasan bahwa ketakcukupan anggaran. Sebab dalam penyusunan anggaran tentunya ada azas azas yang dijadikan dasar, terutama azas proporsionalitas. Setidaknya pihak legislatatif di daerah maupun pusat dapat memandang hal ini sebagai bagian dari upaya memajukan kualitas sumber daya manusia bangsa Indonesia, yang salah satunya adalah perwujudan masyarakat sadar arsip, yang secara alamiah untuk meresponnya membutuhkan anggaran.
Dari arsip sejarah juga mencatat, bahwa pada tahun 1937 Presiden Panama Ricardo J. Alfaro dalam pertemuan Sosiety of American Archivist telah menyatakan bahwa :”Pemerintahan tanpa arsip ibarat tentara tanpa senjata, Ibarat dokter tanpa obat, ibarat petani tanpa benih ibarat tukang tanpa alat.. Arrsip merupakan saksi bisu, tak terpisahkan, handal dan abadi, yang memberikan kesaksian terhadap keberhasilan, kegagalan, pertumbuhan dan kejayaan bangsa” #

Sabtu, 01 Mei 2010

Universitas Islam Indonesia

Lomba Blog UII

Peserta Lomba Blog UII

Menjadi Perguruan Tinggi Idaman Masyarakat

Oleh : Idris Siregar, SH


Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara. Pengertian di atas dicantumkan dalam Undang Undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada pasal 1 ayat

Jenjang pendidikan dimulai dari Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Lanjutan Tingat Atas. Kemudian Perguruan Tinggi. Bila mengacu kepada Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 1961 tanggal 4 Desemer 1961 Tentang Perguruan Tinggi pada pasal 1 menyebutkan bahwa Perguruan Tinggi merupakan lembaga ilmiah yang mempunyai tugas menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran di atas perguruan tingkat menengah, dan yang memberikan pendidikan dan pengajaran berdasarkan kebudayaan kebangsaan Indonesia dan dengan cara ilmiah.

Ruang lingkup Perguruan Tinggi tersebut meliputi Universitas, Akademi, Institut Sekolah Tinggi, Politeknik, yang pada hakikatnya memiliki karakteristik masing masing. Namun, pada intinya merupakan Perguruan Tinggi, karena untuk memperoleh pendidikan di tampat tersebut seseorang wajib lulus dari Sekolah Lanjutan Tingkat Atas.

Tujuan Perguruan Tinggi secara umum yaitu :

1. Membentuk manusia susila yang berjiwa Pancasila dan bertanggung-jawab akan terwujudnya masyarakat sosialis Indonesia yang adil dan makmur, materiil dan spirituil:

2. Menyiapkan tenaga yang cakap untuk memangku jabatan yang memerlukan pendidikan tinggi dan yang cakap berdiri sendiri dalam memelihara dan memajukan ilmu pengetahuan;

3 Melakukan penelitian dan usaha kemajuan dalam lapangan ilmu pengetahuan, kebudayaan dan kehidupan kemasyarakatan.


Permasalahnya sekarang bagaimana menjadikan Perguruan Tinggi menjadi Perguruan Tinggi idaman masyarakat Indonesia?

Ada dua kriteria yang bisa dijadikan instrument dalam menjadikan Perguruan tinggi itu Perguruan Tinggi Idaman, yaitu : Sudut pandang Peraturan dan Sudut pandang Tehnis.

A.Sudut Pandang Peraturan.

Ada dua (dua) legalitas minimal setiap program studi selaku penyelenggara pendidikan di perguruan tinggi. Pertama, ijin penyelenggaraan pendidikan yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Depdiknas, dimana ijin penyelenggaraan dapat diperpanjang setiap lima tahun.

Kedua, status akreditasi yang di keluarkan oleh Badan Akreditasi Nasional Depdiknas dengan peringkat A, B, C dan tidak terakreditasi. Peringkat menunjukkan tingkat kemampuan proses penyelenggaran tingkat program studi dilihat dari berbagai aspek, seperti: jumlah dan kualifikasi pendidik dan tenaga kependidikan, sarana dan prasarana pendidikan, pembiayaan pendidikan, sistem evaluasi dan sertifikasi, serta manajemen dan proses pendidikan.

Akreditasi dilakukan untuk menentukan kelayakan program dan satuan pendidikan pada jalur pendidikan formal dan nonformal pada setiap jenjang dan jenis pendidikan. Dan akreditasi terhadap program dan satuan pendidikan dilakukan oleh Pemerintah dan/atau lembaga mandiri yang berwenang sebagai bentuk akuntabilitas publik, serta dilakukan atas dasar kriteria yang bersifat terbuka.

Dari persfektif normative, Proses pelaksanaan pendidikan di Perguruan Tinggi di atur oleh peraturan yang berlaku dengan memperhatikan aspek aspek yang juga sudah diamanatkan dalam peraturan. Salah satu aspek tersebut adalah aspek akreditasi perguruan tinggi, yang dikhususkan lagi terhadap akreditasi jurusan.

Berdasarkan data Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi Nasional, ideal tidaknya sebuah jurusan dapat dilihat dari :

1. jatidiri, visi, misi, dan tujuan,
2. pengelolaan lembaga dan program,
3 mahasiswa dan bantuan,
4 kurikulum,
5 ketenagaan,
6 sarana dan prasarana,
7 pendanaan,
8 proses pembelajaran dan penilaian hasil belajar,
9 penelitian, publikasi, dan tesis,
10 suasana akademik,
11 pengabdian kepada masyarakat,
12 sistem peningkatan dan pengendalian mutu
13 sistem informasi, dan
14.lulusan.

Hal ini selaras dengan Undang Undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada pasal 1 ayat 1 yang berbunyi bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara

B. Sudut pandang Tehnis.

Sudut pandang tehnis adalah kebijakan kebijakan Pimpinan Perguruan Tinggi di dalam mengoperasionalkan proses pendidikan dilakukan dengan akomodatif, tranparan, dan akuntabel, sehingga mahasiswa mengetahui apa apa saja hak dan kewajibannya di dalam menempuh pendidikan di Perguruan Tinggi tersebut, termasuk juga hal hal yang berkiatan dengan kendala kendala yang mungkin di hadapi oleh mahasiswa apakah karena faktor teknis seperti hambatan dalam belajar maupun hambatan pribadi yang bisa saja terjadi.


Oleh karena itu Perguruan Tinggi hendaknya memiliki :

1.Unit khusus.
Jika di instituasi keamanan ada Unit Reaksi Cepat (URC), maka di Perguruan Tinggi juga dibutuhkan Unit Khusus semacam URC tersebut. Unit ini bertugas untuk memonitoring dan mengevaluasi mahasiswa secara berkesinambungan. Unit tersebut sekaligus menjadi wadah bagi mahasiswa untuk curhat maupun sharing terhadap berbagai hal. Unit itu dikelola oleh orang - orang yang berlatar belakang psikolog, ahli bahasa, dan pemotivator. Psikolog dapat memonitor perkembangan jiwa mahasiswa, Pemotivator diharapkan dapat memotivasi mahasiswa, Dan ahli bahasa diharapkan memberikan konstribusi dalam kemampuan mahasiswa untuk berbicara, mendengar, menulis dan membaca. Hal ini didasari oleh kehidupan Mahasiswa sebagai manusia dan sebagai pebelajar. Sebagai manusia banyak liku liku kehidupan yang mungkin saja timbul sedangkan sebagai pebelajar mahasiswa juga membutuhkan pengembangan kepribadian yang komprehensif meliputi faktor fisik, mental, sebagai sumber daya manusia sehingga diharapkan tidak semata mata menyelesaikan perkuliahan saja, tetapi harus memiliki kualitas yang baik dari segi pendidkan dan kepribadiannya.

2.Pendekatan kekeluargaan
Pendekatan kekeluargaan antara mahasiswa dengan dosen, dan mahasiswa dengan pengelola Perguruan Tinggi. Para dosen dan pimpinan Perguruan Tinggi jangan sampai terjebak dalam pola pikir menara gading yang menjaga jarak begitu jauh kepada mahasiswa, apalagi untuk bersay hello di luar perkuliahan. Seakan – akan mereka tidak pas untuk di ajak bicara oleh mahasiswa di luar konteks perkuliahan. Mahasiswa bukan bawahan dosen. Dosen bukan atasan mahasiswa. Oleh karena itu Perguruan Tinggi kiranya dapat memulainya dengan melakukan kegiatan yang menyertakan seluruh mahasiswa berserta seluruh pengelola Perguruan Tinggi, seperti out bond, camping day. Kegiatan ini dapat dilakukan pada penerimaaan mahasiswa baru, dan kepada mahasiswa yang akan menyelesaikan kuiah juga bisa dilakukan melalui field trip. Di samping itu open house juga perlu dikembangkan dalam dunia pendidikan tinggi, seperti misalnya pada hari Raya Idul Fitri. Bukalah pintu rumah para Pimpinan Perguruan Tinggi dan dosen untuk mahasiswa yang ingin bersilahturahmi.

3.Fleksibilitas dan Transparansi
Khususnya dalam pembimbingan paper, skripsi, maupun tesis. Artinya ketika mahasiswa membutuhkan bimbingan, dosen idealnya mencurahkan perhatian yang penuh dalam membimbing. Jangan berdalil ada urusan atau kegiatan lain sehingga mahaiswa yang ingin melakukan bimbingan tertunda. Apalagi dewasa ini teknologi informasi yang ada yang memudahkan orang untu berkomunikasi dan berinteraksi. Sudah saat internet di manfaatkan dalam proses pembimbingan skripsi. Misalnya seorang mahasiswa mengirimkan draf skripsinya kepada dosen melalui email dosen. Jika perlu berkomunikasi tinggal berhubungan melalui handphone, atau chating.

4.Ketersedian berbagi kepada mahasiswa.
Operasional perguruan tinggi apalagi perguruan tinggi swasta secara umum di peroleh melalui penerimaaan sumbangan pendidikan yang diberikan mahasiswa. Biaya sumbangan pendidikan tersebut hendaknya dikelola dengan manajemen yang baik, dan sebahagian lagi di kembalikan kepada mahasiswa melalui pemberian bea siswa kepada mahasiswa yang berprestasi dalam pendidikan maupun kegiatan atau bidang kreatifitas lainnya. Dengan demikian ada persaingan sehat antara sesama mahasiswa. Misalnya saja di Universitas Islam Indonesia, cobalah membuat kebijakan untuk mahasiswa yang berprestasi memperoleh apresiasi berupa keberangkatan menunaikan Ibadah Umrah atas biaya Perguruan Tinggi. Hal Ini tentu akan bernilai dan memberi kesan mendalam kepada mahasiswa.

Akhirnya, penulis mengemukan rumusan bahwa Perguruan Tinggi Idaman masyarkat adalah Perguruan Tinggi yang memenuhi dua kriteria utama yaitu memenuhi faktor normatif atau peraturan yang telah di tetapak Pemerintah, dan kedua faktor tehnis yang merupakan kebijakan Perguruan Tinggi dalam mengoperasionalkan proses pendidikan yang dilakukan secara akomodatif, tranparan, dan akuntabel.#

Deli Serdang, 2010
Penulis : Mahasiswa Pasca Sarjana S2 Universitas Muslim Nusantara Alwasliyah Medan